Muri

Rekor MURI Tahun 2007

Pemrakarsa dan Penyelenggara Menyalakan Lampu Pijar Dengan Menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Yang Berbahan Bakar Alternatif Minyak Jelantah Terbanyak 2005 Buah

 

Pekan Aplikasi dan Kreasi (PAK) 2007 yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Trisakti diisi dengan berbagai kegiatan menarik dan penuh kreatifitas.

PAK 2007 yang dilangsungkan di Kampus A Usakti, Jakarta Barat 14-16 Juni lalu diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya pameran pendidikan, pameran foto, modification motor contest, bazaar, modern dance, band dan aneka games.

Hal paling istimewa dalam pelaksanaan PAK 2007 ini adalah untuk ketiga kalinya Jurusan Teknik Mesin Usakti mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI)  dan untuk kedua kalinya memecahkan rekor MURI dalam bidang pemanfaatan  energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar solar dan bensin.

Kali ini, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Usakti diberi penghargaan karena berhasil mengembangkan bio ethanol sebagai bahan bakar pengganti bensin yang  diaplikasikan pada mesin gokart. Piagam penghargaan secara khusus diserahkan   13 Juni lalu bertempat di arena gokart  Jl. Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan disaksikan oleh Rektor Universitas Trisakti Prof. Dr. Thoby Mutis, Dekan FTI  Ir. Docky Saraswati, M.Eng,  para pejabat FTI,  para pengurus dan anggota Ormawa Usakti.

Penyerahan penghargaan berlangsung meriah, karena sebelum dan sesudah acara utama dilakukan atraksi gokart dengan menggunakan bahan bakar bio-ethanol.

Pandu Harun, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin selaku ketua panitia pelaksana dan penggagas acara ini mengatakan bahwa setelah berhasil meraih penghargaan MURI melalui penelitian dan aplikasi bahan bakar alternatif seperti penggunaan minyak jelantah, bio diesel dan solar hijau beberapa waktu lalu, para mahasiswa tidak berpuas diri. Mereka terus mengembangkan penelitian lainnya yakni memanfaatkan bio ethanol sebagai pengganti bensin.

“Kita mencatat bahwa dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan, cadangan minyak bumi kita akan habis atau setidaknya mungkin sudah menipis. Dengan demikian, sebagai negara yang sangat membutuhkan dan sangat bergantung pada bahan bakar minyak selama ini, sudah selayaknya memikirkan sumber-sumber energi alternatif sejak dini sehingga diharapkan dapat mengurangi atau menghindari krisis energi di masa depan. Itulah sebabnya kami terus giat melakukan berbagai penelitian untuk menemukan energi alternatif yang paling sesuai, mudah diproduksi, murah dan ramah lingkungan. Sebenarnya bio-ethanol ini hanya sebutan saja, karena bahannya masih berupa campuran antara bio-ethanol dan bensin,” jelas Pandu.

Menurut Pandu Harun, bio-ethanol  sebenarnya bisa diproduksi dari tebu, jagung ataupun singkong yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia. Dan seperti diketahui, ethanol sendiri sebagai salah satu bahan kimia sudah lama dipakai dalam industri medis maupun  industri lain. Hanya saja sejauh ini belum ada pihak yang mematenkannya atau belum ada yang berani membuktikan langsung bahwa dari ethanol ini bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.

Ethanol memang belum begitu dikenal masyarakat karena pemakaiannya masih terbatas dan bahannya sendiri tergolong langka. Kalaupun ada harganya masih mahal dan tentu saja untuk memasyarakatkannya harus melalui produksi masal sehingga masalah harga ini  bisa ditekan.

Acara seperti yang dilakukan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ini dengan mengadakan event gokart menggunakan ethanol adalah salah satu cara memasyarakatkan ethanol yang mempunyai manfaat lain disamping manfaat yang sudah diketahui masyarakat selama ini.

Selain itu, dukungan dan perhatian pemerintah terhadap permasalahan energi dan dorongan dalam penemuan-penemuan energi alternatif  tentu akan sangat berpengaruh pada pengembangan dan penemuan energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan di masa depan.

Sementara Dody Ahmadsyah,  Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Usakti yang ditemui MK pada acara penyerahan penghargaan ini menambahkan bahwa mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Usakti  begitu concern terhadap permasalahan energi ini selain untuk menemukan energi-energi alternatif yang baru dan layak produksi, disisi lain para mahasiswa ingin menciptakan sebuah icon agar masyarakat luas mengenal Usakti ahli dalam hal  bahan bakar alternatif.

“Ketika orang-orang berbicara bahan bakar alternatif seperti dalam seminar, penelitian ataupun forum ilmiah lainnya, terasa tidak lengkap bila tidak melibatkan Usakti. Itulah harapan kita, mengapa kita begitu aktif melakukan berbagai penelitian terkait energi alternatif ini,” terang Dody.

Menurut Dody, sesuai dengan kondisi Indonesia maka sangat prospektif jika pemerintah di masa depan lebih mengembangkan bio ethanol yang berbahan baku singkong. Mengenai proses pembuatannya, Dodi menjelaskan bahwa diperlukan waktu satu minggu untuk menghasilkan ethanol dari singkong melalui serangkaian proses yang cukup panjang. Dan kualitas ethanol yang dihasilkan pun  masih bervariasi tergantung dari kualitas singkong yang diproses. Jadi semua ini membutuhkan analisis yang matang dan melibatkan berbagai  disiplin ilmu seperti dari teknik lingkungan dan pertanian, karena analisis yang matang dapat menghasilkan sesuatu yang lebih berkualitas dan bermanfaat.

Tentu saja, dengan dukungan berbagai pihak yang berkompeten terhadap ketersediaan energi secara berkesinambungan di tanah air, apa yang sudah ditemukan ini menjadi titik tolak untuk dikaji lebih jauh sehingga ditemukan energi alternatif yang murah dan terjangkau oleh masyarakat luas sehingga kekhawatiran akan datangnya masa di mana krisis energi menjadi momok yang menakutkan dapat ditepis oleh putra-putri terbaik negeri sendiri. Semoga!

 

 

Sumber: http://www.trisakti.ac.id/fti/?page=news&ID=76