Muri

Rekor MURI Tahun 2010

Pemrakarsa dan Penyelenggara Mengendarai Kendaraan Bermesin Diesel Dengan Bahan Bakar Biodiesel Jelantah Melalui Rute Jakarta – Bali – Jakarta

 

T.M. BANYUAJI-SUGENG S., Jakarta – Pagi itu, dua mobil Isuzu Panther LS Turbo lansiran 2008 mulai dihidupkan mesinnya di pelataran parkir Fakultas Teknik Mesin dan Industri Universitas Trisakti (Usakti), Jakarta. Yang satu menggunakan minyak solar, mobil satunya dipenuhi bahan bakar yang tidak lazim. Yakni minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai. Kedua mobil itu diuji ketahanannya untuk menempuh perjalanan jauh Jakarta-Bali, pulang pergi.Mobil yang dijadikan kelinci percobaan itu milik orang tua salah satu dari tujuh mahasiswa peserta touring dalam rangka percobaan minyak jelantah sebagai bahan bakar pengganti solar itu. “Ini proyek diam-diam. Jadi, pemakaian mobil untuk percobaan ini tidak kami beritahukan ke orang tua kami. Nanti malah tidak boleh,” ujar Royan Thalib, kepala divisi riset dari Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) Usakti saat ditemui Jawa Pos, Senin (14/6) lalu.Begitu mesin telah panas, kedua mobil pun memulai perjalanannya menuju Pulau Dewata. Perjalanan ditempuh dengan  kecepatan 90 km per jam sampai 120 kilometer per jam. Tanpa mengalami hambatan berarti, kedua mobil akhirnya sukses menyentuh garis finis di Bali, 5 Mei 2010 pukul 04.00 dan langsung menginap di sebuah hotel di Kuta. Sore harinya, sekitar pukul 16.00, perjalanan pulang ke Jakarta dilakukan dengan rute yang sama. Tentu saja setelah mobil percobaan dipenuhi minyak jelantah sebagai bahan bakarnya.

“Alhamdulillah, nggak mogok. Bahkan, mobil minyak jelantah mampu menyalip mobil yang menggunakan minyak solar,” ungkap Royan, bangga.

Yang menarik, mobil yang menggunakan minyak jelantah ternyata mengeluarkan asap dengan aroma bau sesuai apa yang digoreng sebelumnya dengan minyak kelapa tersebut. Nah, saat itu, para mahasiswa sengaja menggunakan minyak jelantah bekas menggoreng chicken nugget.

“Ternyata, bau asap yang kelau dari knalpot juga beraroma chicken nugget. Enak kan,” tambah Royan lantas tertawa. “Jadi, kita bisa memilih bau apa yang kita inginkan. Asyik kan,” tuturnya lagi.

Secara sekilas, biodiesel jelantah –nama ilmiah minyak jelantah yang sudah diolah sebagai pengganti solar” itu seperti minyak goreng biasa. Para mahasiswa menamai minyak itu dengan B100. Warnanya kuning keemasan, namun tidak sekental minyak goreng.

“Minyak jelantah yang sudah diolah ini siap digunakan,” kata Hendra Sufi Marsyah, wakil ketua tim energi alternatif HMM Usakti.

Biodiesel jelantah yang ditunjukkan Hendra adalah sampel BBM yang sudah diproduksi untuk keperluan touring. Mereka memproduksi sekitar 15 jeriken. Satu jerikan berisi 20 liter. “Waktu touring uji coba itu, kami menghabiskan sekitar 13 jeriken atau 260 liter minyak jelantah,” kata Hendra sambil menunjuk dua jeriken berisi biodiesel jelantah yang masih tersisa.

Touring dengan biodiesel jelantah itu adalah salah satu peristiwa penting bagi tim riset energi alternatif HMM Usakti. Perjalanan menyusuri jalanan pantai utara (pantura) hingga Bali itu membuktikan bahwa konsumsi BBM biodiesel lebih irit dibandingkan solar.

“Satu liter solar bisa habis dalam 11-13 kilometer, sementara satu liter B100 bisa untuk menempuh jarak 12-15 kilometer,” ujar Hendra. Perjalanan sekitar 2.800 km itu ditempuh selama empat hari, 3-7 Mei lalu.

Menurut Hendra, butuh waktu yang panjang untuk bisa menghasilkan biodiesel jelantah yang siap pakai. Riset B100 itu merupakan kelanjutan penelitian yang sudah dilakukan para senior mereka sejak tahun 2005. “Kami sendiri mulai bekerja sejak Mei tahun lalu (2009, Red),” kata Hendra.

Pada 2005 sebenarnya tim energi alternatif yang digawangi angkatan 2002 sudah berhasil memformulasikan biodiesel jelantah. Namun, BBM alternatif  itu belum bisa diaplikasikan pada mesin kendaraan bermotor. “Kadar metanolnya masih terlalu tinggi,” tutur mahasiswa angkatan 2006 itu.

Dengan kadar metanol tinggi, biodiesel itu mudah merusak mesin. Apalagi, kendaraan bermotor memiliki putaran mesin tinggi. Jika dipaksakan bisa memperpendek usia mesin. “Pengaruhnya ke oli mesin juga. Jika standar oli mesin bisa dipakai 5.000 kilometer, dengan metanol tinggi hanya bisa terpakai 1.000 kilometer,” jelasnya.

Tugas tim energi alternatif angkatan Hendra-lah yang kemudian mendapatkan tugas memurnikan biodiesel jelantah itu. Tim riset tersebut diketuai Mula Setyo, mahasiswa mesin,  dengan anggota Royan Thalib,  M.G. Roby, Hendra Sufri Masyah, dan Ari Pramudianto. Semua mahasiswa angkatan 2006. Tim juga merekrut muka baru dari angkatan 2009, yakni Wanda Adityo dan Carmen. Tim ini didampingi Duddy Suherman, alumnus angkatan 2002 sebagai penasihat.

Hendra dkk. kemudian mencoba mengulang metode riset yang pernah dilakukan seniornya. Awalnya, minyak jelantah disortir. Sebab, kualitas setiap jelantah berbeda. Ada yang tercampur dengan oli, ada pula yang tercampur air, seperti yang terdapat pada bekas penggorengan ikan lele. “Setelah disortir, dipanaskan untuk dipisahkan dari campurannya,” kata Hendra.

Tujuan pemanasan itu untuk mengurangi kadar air. Setelah itu dilakukan penyaringan untuk mendapatkan jelantah murni. Jelantah murni itu kemudian direaksikan dengan cairan metoksi dan menghasilkan metil ester dan gliserin. “Metil ester-nya yang dipakai. Sedangkan gliserinnya disimpan karena memiliki fungsi lain. Misalnya untuk bahan dasar pembuatan sabun mandi,” kata Hendra sambil menunjuk puluhan botol bekas air mineral berisi gliserin.

Metil ester itulah yang merupakan biodiesel jelantah. Namun, proses itu belum selesai. Tim energi alternatif kemudian menambahkan satu proses lagi, yakni destilasi untuk mengurangi kadar metanolnya. “Destilasi (penguapan) itu relatif bisa mengurangi metanol,” tutur dia.

Minyak hasil destilasi itulah yang siap diujicobakan ke mobil. Tapi, mereka tidak langsung mengujikannya pada mesin mobil diesel. Kelinci percobaan dilakukan pada seperangkat mesin genset yang dihidupkan kontinyu selama 10 jam.

Percobaan di genset ternyata sukses. Saat mesin dibongkar, tim tidak menemukan banyak kerak dalam sisa pembakaran mesin. “Malah, kotoran dan keraknya ternyata lebih sedikit dibanding bila menggunakan solar,” kata Hendra.

Setelah itu, tim energi alternatif kemudian memberanikan diri untuk mendaftarkan prestasi tersebut ke Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Mereka mengajukan proposal untuk bisa melakukan touring nonstop dari Jakarta-Bali pulang pergi. Sebagai pemanasan, tim melakukan uji coba langsung pada mobil Isuzu Panther.

“Uji coba pada akhir April dilakukan dari Ciganjur ke Jakarta,” ujarnya.

Sebagai tolok ukur perjalanan, tim dari MURI ketika itu tidak mendampingi penuh. Tim MURI hanya melakukan pemeriksaan di setiap check point yang ditentukan. “Kami diwajibkan mengumpulkan stempel dari setiap Polsek yang dilewati,” ujarnya.

Cerita perjalanan pun tak kalah seru. Tim energi alternatif harus mengejar waktu melakukan perjalanan turing dalam batas lima hari. Alhasil, tim energi alternatif pernah ditilang di Bali, karena melanggar lalu lintas saat melalui bundaran di daerah Tabanan. “Waktu itu pagi sekali, sekitar jam 1/2 dua. Ya karena tidak tahu, juga kecapekan,” ujarnya bercerita.

Tim energi alternatif pun juga hampir nahas terkena maut. Saat perjalanan pulang melewati daerah Banyuwangi, salah satu Panther mengalami selip ban. Salah satu sisi ban menyentuh tanah yang permukaannya lebih rendah dari aspal. “Hampir nahas, karena menghindari mobil,” ujarnya. Tim bernapas lega karena kejadian itu tak berlanjut hingga perjalanan pulang berakhir.

Melalui perjalanan itu, tim energi alternatif telah membuktikan bahwa Biodiesel Jelantah telah berhasil menjadi bahan bakar alternatif pengganti Solar. Sayang, perhatian pemerintah belum maksimal. Tim berharap bahwa akan ada perhatian untuk bisa memaksimalkan energi alternatif buatan mereka itu. “Kami akan mengajukan hak paten atas B100 ini,” tandasnya.

Tim riset memang berniat mendaftarkan ke Menkumham agar mendapatkan hak paten jika kelak segala unsur penunjang untuk kemudian penemuannya itu diproduksi dalam kapasitas besar dan diperdagangkan. Kendala terbesar saat ini adalah kesulitan mendapatkan bahan baku utama, yaitu minyak goreng jelantah dalam jumlah besar.

Pernah, kata Royan, pihaknya mengajukan kerjasama ke restoran fast food yang menjual ayam goreng agar minyak hasil penggorengannya diberikan. “Tapi ternyata kata mereka tidak bisa karena sudah ada kerjasama dengan pihak lain untuk keperluan lain,” ucapnya.