Muri

Rekor MURI Tahun 2014

Mengelilingi dan Mengibarkan Bendera Merah Putih di Pulau Terbanyak (Menggunakan Kapal Berbahan Biodiesel Air)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Inovasi mahasiswa program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi IndustriUniversitas Trisakti dengan temuan solar air sebagai bahan bakar pengganti solar biasa yang diklaim lebih murah dan ramah lingkungan, serta lulus ujicoba di kapal nelayan yang mengelilingi 69 pulau di kepulauan seribua selama 5 hari,Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan terhadap para mahasiswa Trisakti, di Universitas Trisakti, Grogol, Minggu (17/8/2014).

Deputi Manager MURI, Awan Raharjo, menjelaskan penghargaan yang diberikan kepada mahasiswa Trisakti ini dalam kategori berhasil membuat inovasi bahan bakar baru sehingga mampu mengelilingi dan mengibarkan bendera merah putih di pulau di kepulauan seribu dengan jumlah terbanyak dengan menggunakan kapal berbahan bakar bio diesel air.

“Kami dari MURI mengapresiasi semua inovasi temuan Solar Air sampai mengelilingi dan mengibarkan bendera merah putih di 69 pulau di Kepulauan Seribu dengan kapal nelayan. Karenanya pada hari ini, bertepatan dengan perayaan HUT RI yang juga ke 69, atas prestasi dan karya anak bangsa, mahasiswa Universitas Trisakti, MURI mempersembahkan penghargaan ini,” kata Awan, saat penyerahan piagam penghargaan MURI ke mahasiswa dan pihak Universitas Trisakti, di Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, Minggu (17/8/2014).

Awan mengatakan rekor yang dibuat Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri serta didukung penuh oleh Universitas Trisakti ini, adalah sebuah rekor baru yang bukan saja hanya rekor baru di Indonesia, tetapi juga sebuah rekor bertaraf internasional.

“Selain mencatat peristiwa yang skalanya nasional atau rekor Indonesia, kami juga mencatat kegiatan dengan skala internasional atau rekor dunia. Dari hasil survey dan penggalian informasi, di negeri lain ini belum ilmuwan atau pelajar yang yang mampu menghasilkan inovasi seperti yang sudah dilakukan oleh Universitas Trisakti,” papar Awan.

Karenanya, kata Awan, tidak berlebihan apabila MURI mempersembahkan piagam rekor dunia kepada mahasiswa Trisakti pencetus lahirnya inovasi ini serta Universitas Trisaksi yang memberikan dukungan penuh.

Seperti diketahui sejumlah mahasiswa program Studi Teknik Mesin dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisaktiberhasil melakukan inovasi berupa bahan bakar solar air sebagai penggangi solar biasa. Bahan bakar ini memiliki bahan utama solar sebanyak 70 persen, bahan zat adiktif 20 persen dan air 10 persen.

Solar air, diklaim berkekuatan sama dengan solar biasa dan dapat menghemat penggunaan solar hingga 10 persen.

Selain lebih murah, solar air dipastika jauh lebih ramah lingkungan dan mampu mengurangi asap pekat hitam jika menggunakan solar biasa.

Setelah melalui uji coba langsung dilapangan dengan mengelilingi 69 pulau selama 5 hari sejak Minggu (10/8/2014) lalu, solar air akhirnya dinyatakan lolos uji dan aman digunakan masyarakat luas, Minggu (17/8/2014).

Dalam uji cobanya, solar air digunakan sebagai bahan bakar di mesin diesel kapal nelayan dan berhasil mengelilingi 69 pulau di Kepulauan Seribu selama 5 hari, sejak Minggu (10/8/2014) lalu.

Aditya Kristanto, mahasiswa Teknik Mesin Angkatan 2013Universitas Trisakti yang merupakan salah seorang tim risetsolar air, menyebutkan setelah melakukan perjalanan selama 5 hari menggunakan 2 kapal nelayan dengan bahan bakar solarair hasil inovasi mereka, yang mengangkut 9 orang mahasiswa penemu solar air ini, mereka langsung mengecek kondisi mesin kapal nelayan yang digunakan.

“Setelah kami bongkar dan kami periksa, ternyata mesin kapal tetap bersih dan tidak ada masalah apapun. Ini membuktikan bahwa bahan bakar solar air ini aman untuk dipergunakan, dan penanda solar air lulus uji,” ujar Aditya, kepada warta kota, Minggu (17/8/2014).

Aditya berharap dengan penemuan solar air ini maka dapat membantu mengurangi beban pengeluaran nelayan pasca dikuranginya subsidi solar sebesar 20 persen.

“Setelah kami hitung harga yang harus dikeluarkan lebih murah dibandingkan dengan harga solar biasa. Selain itu penggunaannya lebih irit dibandingkan dengan solar biasa. Kelebihan lainnya suhu mesin juga lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan solar biasa dan solar air ini lebih ramah lingkungan,” paparnya.

Muhammad Hafnan, Dosen Teknik Mesin Usakti, pembimbing mahasiswa penemu solar air, memaparkan bahwa penelitian mengenai bahan bakar solar air telah dilakukan melibatkan mahasiswa semenjak tahun 2002. “Tujuannya untuk mengurangi zat NOX yang berbahaya bagi kesehatan, serta mengurangi asap hitam yang dihasilkan pembakaran solar. Yang membedakan formula penemuan solar air kami dengan yang lainnya adalah bentuknya yang bening dan bersih, serta ketika didiamkan tidak terpisah kembali,” papar Hafnan.

Formula temuan mereka inilah, kata Hafnan, yang akan dipatenkan setelah dinyatakan lolos ujicoba di mesin. Bahkan, katanya hasil ujicoba sangat bagus.

Hafnan memaparkan formula solar air yang dihasilkan oleh Usakti ini merupakan campuran dari 70 persen solar, 20 persen zat adiktif dan 10 persen air.

“Zat adiktif sebagai pengikatnya menggunakan sisa limbah minyak sawit bekas yang banyak tersedia di indonesia, serta harganya murah. Dengan menggunakan solar air ini, selain lebih hemat, zat NOX yang dihasilkan oleh mesin diesel berkurang hingga 40 persen serta kepekatan asap hitam turun hingga 60 persen,” paparnya bangga.

Menurutnya lulusnya ujicoba solar air yang bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke 69, akan dijadikan momentum dan penegasan bahwa mahasiswa Indonesia tidak kalah berprestasi dengan mahasiswa luar negeri, bahkan bisa lebih unggul dalam hal inovasi.

 

Sumber: http://indohub.com/2014/08/17/muri-inovasi-solar-air-temuan-bertaraf-internasional